Articles by "STARTUP"
Tampilkan postingan dengan label STARTUP. Tampilkan semua postingan
Perusahaan raksasa teknologi seperti Facebook, Dropbox, dan Instagram berawal dari perusahaan start-up yang mampu meraih kesuksesan dengan baik. Jangan melihat perusahaan start-up sebagai tren bisnis saja, sebab ada beberapa pelajaran keuangan pribadi yang bisa dipelajari.

Berikut ini 3 cara berpikir perusahaan start-up yang bisa diterapkan untuk meningkatkan kondisi keuangan Anda.

3 Cara Berpikir Perusahaan Start-Up, Bisa Meningkatkan Kondisi Keuangan

1. Jangan Berfokus Pada Banyak Hal

Para pendiri start-up menemukan bahwa layanan yang melakukan satu hal dengan sangat baik lebih bagus daripada layanan yang mencoba melakukan banyak hal.

Peter Thiel, seorang Co-Founder dari PayPal menyarankan semua pengusaha pemula untuk berpikir keras dan mengejar satu ide yang tidak dilakukan orang lain.

Jika dikaitkan dengan keuangan pribadi, Anda harus membuat sesuatu menjadi sederhana dan berfokus pada tujuan atau masalah keuangan yang ingin diselesaikan.

Misalnya saja, Anda berfokus untuk menghilangkan utang kartu kredit yang berbunga tinggi atau berfokus mengumpulkan dana untuk membeli rumah pertama.

2. Jangan Takut Salah dan Mengubah Rencana

Payal Kadakia adalah seorang pendiri Classtivity yang merupakan layanan kelas kebugaran dengan model membayar per kelas. Setelah 2 tahun beroperasi, layanan yang diberikan tidak menarik oleh banyak orang.

Kemudian ia menjadikan Classtivity menjadi ClassPass dengan langganan USD 99 dan memungkinkan para pengguna pergi ke kelas mana pun untuk ikut berpartisipasi.

Dengan sedikit mengubah metode layanan, Classpass menjadi bisnis yang bernilai USD 470 saat ini.

Jika rencana keuangan Anda tidak berfungsi sama sekali, maka inilah saatnya untuk mengubah rencana dan melakukan berbagai perbaikan.

Perubahan tidak bisa dihindari dan sambutlah perubahan tersebut agar bisa memperbaiki situasi keuangan Ada.

3. Melakukan Outsourcing Untuk Hal yang Tidak Penting


Jeff Haynie seorang CEO Appcelerator mengungkapkan bahwa perusahaan start-up selalu melakukan outsourcing untuk menekan biaya yang tidak diperlukan.

Anda harus mulai memetakan tugas dan menentukan mana tugas yang sebaiknya dilakukan oleh orang lain.

Dengan melakukan outsourcing pekerjaan, maka Anda bisa berfokus pada kegiatan operasional inti dengan baik.

Dalam hal keuangan bisa jadi Anda kesulitan untuk mengatur keuangan, sulit membuat anggaran, atau sulit menemukan penawaran terbaik saat akan berbelanja.

Anda tidak harus melakukan outsoursing dengan mempekerjakan orang lain mengelola keuangan.

Jika pasangan lebih baik dalam mengatur keuangan, Anda bisa membiarkan semua penghasilan diatur dengan baik oleh pasangan saja.

Hal yang penting untuk diingat dalam mengatur anggaran keuangan adalah menyisihkan sebagian penghasilan untuk berinvestasi.

Jika Anda termasuk ke dalam investor pemula dan memiliki profil resiko konservatif, maka mulailah berinvestasi pada produk yang rendah resiko dan modal yang minim.
Jenis Inovasi Startup – Kamu harus merombak ulang model bisnis.” Saya menatap wajah partner perusahaan modal ventura yang ada di seberang meja makan. Acara makan siang bersama dengannya pada hari itu tak berjalan seperti yang saya harapkan.

Padahal saya berencana menyampaikan teknologi mutakhir yang telah kami kembangkan untuk merevolusi dunia komputasi di kalangan korporat. Tapi ia sama sekali tidak tertarik akan hal itu.
Saat sang partner mengetahui bahwa kami masih dalam tahap belum punya penghasilan, ia mulai membahas tentang model bisnis. Lalu ia mulai menyebutkan portofolio investasinya pada sederet perusahaan teknologi yang menyasar kalangan korporat, yang pada dasarnya saya pikir kurang bagus.
Setelah lama gagal menetapkan pertemuan dengan para calon investor, mengalami pembatalan janji secara mendadak, serta bertemu dengan mereka yang tidak menunjukkan minat, saya mulai sadar bahwa kami tidak memiliki apa yang mereka inginkan.
Apa yang salah dengan usaha saya?

Masalah dengan kesuksesan di tahap awal

Pertama-tama, saya menyadari bahwa suatu kesuksesan di tahap awal dapat menggiring pada asumsi salah. Saya tahu itu karena pernah mengalaminya sendiri.
Di akhir 1990-an, saya merupakan pemilik/partner dari sebuah perusahaan yang mendapatkan investasi berkat teknologi yang tengah kami kembangkan. Teknologi tersebut sangat sulit dikembangkan karena dibangun dengan Java, yang pada saat itu belum seandal sekarang. Semua karyawan perusahaan kecipratan rejeki saat kami menjual bisnis dan teknologi tersebut.
Saya kemudian berpikir bahwa tahapan-tahapan tadi adalah jalan menuju kesuksesan: bangun teknologi yang lebih bagus, para investor akan mengantre untuk menanamkan modal.
Tapi kini zaman sudah berubah.
Saya kembali membangun sebuah teknologi canggih untuk mengatasi suatu masalah dan belum ada yang bisa memecahkannya. Saya membulatkan tekad dan bekerja keras untuk itu. Setelah melakukan penelitian dan pengembangan selama bertahun-tahun, saya akhirnya memecahkan masalah tersebut dan kemudian mendirikan perusahaan.
Saya yakin memiliki teknologi yang mampu “mengubah dunia” adalah kunci untuk mendapatkan investasi dan, ya, benar-benar mengubah dunia. Kini, bertahun-tahun kemudian, perusahaan saya tak kunjung mendapatkan suntikan dana dari investor. Kesempatan untuk mendapatkan investasi juga tampak bagai menanti hujan di musim kemarau.

Analisis saya pribadi

Saya tidak paham dunia investasi secara mendalam, tapi saya telah mengembangkan teori sendiri tentang apa yang diinginkan para investor dan mengapa mengembangkan teknologi mutakhir saja tidak menarik minat mereka.
Perlu dicatat bahwa saya sedang membahas inovasi software. Teknologi lain seperti hardware komputer, peralatan medis, dan berbagai produk berwujud fisik, punya karakteristik sama sekali berbeda. Justru lebih mudah menampilkan kecanggihan yang kamu buat dalam bidang-bidang ini.
Analisis yang saya lakukan menghasilkan kesimpulan bahwa ada dua jenis inovasi software:
  • Inovasi bisnis. Berarti memiliki ide bisnis brilian dan bisa diimplementasikan dengan teknologi yang sudah ada, seperti Facebook, Airbnb, dan Uber. Semuanya tidak memulai dengan teknologi paling mutakhir, tapi punya ide bisnis yang bagus.
  • Inovasi teknologi. Mengembangkan teknologi software yang benar-benar baru, lalu memikirkan bagaimana cara menghasilkan uang dengan teknologi tersebut.

Faktor potensi penghasilan

Saat kamu mengamati berbagai inovasi teknologi, masing-masing punya taraf potensi tersendiri untuk diimplementasikan dalam bisnis. Mari kita sebut elemen ini sebagai faktor potensi penghasilan (FPP) dengan skala satu (tak punya peluang) hingga sepuluh (sangat berpotensi menghasilkan uang).
Ambil contoh blockchain. Teknologi ini sangat keren, tapi nilai FPP miliknya saya pikir ada di kisaran satu (atau bahkan kurang). Berapa banyak perusahaan yang telah mengimplementasikannya serta berhasil membangun bisnis besar?
Sejauh pengetahuan saya, tidak ada. Saya bukannya menganggap teknologi ini sama sekali tidak punya potensi, tapi sejauh ini belum ada alasan konkret untuk mengimplementasikannya secara luas.
Kamu harus mampu membuktikan bahwa teknologi buatanmu punya potensi bisnis.
Di sisi lain, inovasi teknologi yang sukses adalah algoritme pencarian milik Google. Larry Page dan Sergey Brin mengembangkan algoritme berdasarkan nilai Eigen dan membuktikan bahwa pencarian secara besar-besaran dapat dilakukan.
Itu adalah teknologi yang mereka kembangkan. Hal selanjutnya adalah mengembangkan model bisnis berdasarkan karya tersebut. Pada kasus ini, mereka akhirnya sampai pada keputusan untuk menampilkan iklan dalam hasil pencarian.
Jadi, meski kamu punya teknologi hebat, belum tentu para investor mau mendukungmu. Jika suatu hal punya nilai FPP tinggi, mungkin mereka bersedia. Tapi jika mereka enggan, kamu harus mampu membuktikan bahwa teknologi buatanmu punya potensi bisnis.

Investor ingin imbal balik besar

Jika ide milikmu jauh lebih bagus ketimbang teknologi yang ada saat ini, pasti para investor bersedia mendukungnya, kan? Tidak juga.
Perbaikan inkremental pada teknologi yang sudah ada bisa jadi lebih mungkin untuk mendapatkan investasi dan meraih laba. Jika ingin memikat calon investor, langkah ini lebih masuk akal dibanding menawarkan inovasi radikal.
Inovasi bisnis lebih mudah dijelaskan. Semua orang memahami dasar teknologinya. Masalahnya terletak pada apakah ide bisnis tersebut mampu memikat pasar dan menghasilkan uang. Ini adalah risiko yang akan dievaluasi para investor.
Jika yang kamu punya adalah inovasi teknologi, maka jalan yang perlu kamu tempuh akan jauh lebih terjal. Merangkai kata-kata untuk menjelaskan produk akan jauh lebih sulit.
Dengan inovasi bisnis, kamu tak perlu menjelaskan teknologi yang kamu punya, cukup ide bisnisnya saja. Tapi dengan inovasi teknologi, kamu harus menjelaskan hal-hal teknis pada orang awam.
Sebelum blockchain jadi barang umum yang dikenal banyak orang, bagaimana menjelaskan benda tersebut? Kamu bisa mendeskripsikannya, tapi apa hanya akan terdengar sebagai istilah-istilah asing dalam dunia teknologi? Di mana potensi penghasilannya? Bagaimana kamu akan mengimplementasikan dan menghasilkan uang? Hal-hal inilah yang ingin didengar oleh para investor.
Teknologi blockchain mendapatkan kucuran dana sangat besar saat ini, antara lain berkat imbas dari antusiasme yang dibangun media tentang Bitcoin, serta telah dikenal secara luas. Proses penyebarluasan ini membutuhkan waktu sepuluh tahun. Kini blockchain telah menjadi teknologi umum dan beragam ide bisnis bermunculan di mana-mana.

Kesimpulan

Ide inovasi bisnis dapat muncul secara seketika, dan keberhasilannya dapat diukur dalam waktu beberapa tahun saja. Tapi inovasi teknologi membutuhkan waktu pengembangan yang jauh lebih panjang. Setelah dikembangkan pun, kamu perlu memikirkan bagaimana menyusun bisnis dengannya.
Usaha mencari investasi tak hanya butuh waktu, tapi juga bisa membuat depresi. Aktivitas ini kemungkinan besar tidak termasuk dalam daftar minatmu. Jika kamu berlatar belakang teknis, kamu mungkin lebih suka menciptakan sesuatu. Mampukah kamu menghabiskan waktu untuk menetapkan pertemuan yang sebagian besar akan berakhir nihil?
Jadi, kamu perlu berpikir masak-masak sebelum mengagunkan rumah serta menghabiskan tabungan demi membangun inovasi teknologi. Jika kamu sudah bertekad bulat, maka pilihan paling masuk akal adalah berhemat dengan melakukan bootstrap.
Suatu saat, dengan cukup banyak pelanggan, kamu mungkin bisa membuktikan idemu yang pada akhirnya akan memikat para investor. Bisa jadi saat masa itu tiba, kamu tak lagi memerlukan investasi. Inilah mengapa aspek investasi sangat rumit dan bertolak belakang dengan para inovator teknis.
Anak Muda Bisa Sukses – Mereka kaya, terkenal, dan terutama: muda. Sebagian besar dari mereka bahkan belum mencapai usia 21 tahun. Kebayang ‘kan, apa apa lagi yang bisa mereka lakukan di sisa umur mereka yang masih panjang?

Daftar di bawah ini akan menampilkan beberapa anak muda yang paling sukses di dunia teknologi informasi saat ini. Ada yang memimpin startup, sukses sebagai seleb YouTube, bahkan menjadi CEO.
Harapannya, kita bisa mengambil pelajaran dari kesuksesan mereka. Dan yang terpenting, kamu jadi terpacu untuk berbuat lebih banyak untuk kesuksesan dirimu sendiri!

Palmer Luckey, 21 Tahun

Palmer adalah pendiri Oculus VR, sebuah startup yang membuat perangkat realitas virtual seperti Oculus Rift. Perangkat yang dipasang di kepala ini memungkinkan para pemain game terpapar terhadap lingkungan virtual yang terasa “nyata”.
Walaupun tren ini belum mencapai puncaknya, Palmer tinggal menunggu waktu saja sebelum para pengembang membuat lebih banyak game virtual. Produk ini begitu menjanjikan sampai-sampai Mark Zuckerberg melalui Facebook-nya mengakusisi Oculus VR dengan harga USD 2 miliar, atau setara dengan Rp. 23 triliun.

Arya Bina, 19 Tahun

Remaja asal Amerika ini memulai perusahaan di bidang travel pada usia 16 tahun. Perusahaan itu berupa situs penyedia paket liburan murah dengan potongan diskon, Cheap Travel Hunter. Dalam tiga tahun website ini berkembang pesat dengan jumlah kunjungan sekitar 75,000 per bulan. Kini, Arya membawahi 20 orang karyawan. Lumayan, lah.

Nick D’Aloisio, 18 Tahun

Nick adalah pengembang aplikasi pengumpul berita, Slummy, yang pada Maret 2013 dibeli Yahoo! dengan mahar USD 30 juta, atau setara dengan Rp. 358 miliar. Sebenarnya, pada dasarnya Yahoo! bukannya membeli Slummy, tapi membeli otak Nick. Buktinya? Di bulan Januari 2014, Yahoo! muncul dengan aplikasi News Digest yang dibangun berdasarkan kesuksesan Slummy. Prestasi yang lebih dari lumayan buat anak yang baru masuk kuliah.

Thomas Sohmers, 17 Tahun

Thomas memutuskan untuk putus sekolah sejak bangku SMA demi mendapat gemblengan Peter Thiel, salah satu pendiri PayPal, melalui program 20 Under 20 Thiel Fellowship. Namun pengorbanan Thomas nggak sia-sia. Saat ini dia sedang mempromosikan komputer ciptaannya di bawah bendera startup sendiri, REXcomputing. Komputer ciptaan Thomas memiliki fungsi yang sangat cepat, namun juga sangat hemat energi. Bayangkan komputer super yang dioperasikan dengan tenaga baterai smartphone!

Erik Finman, 15 Tahun

Erik merupakan pengusaha muda yang sudah mempelajari komputerisasi dan robotika sebelum menginjak usia 15 tahun. Pada suatu hari, nenek Erik memberikannya hadiah berupa uang sebesar USD 1,000. Alih-alih dipakainya buat beli konsol video game seperti teman sebayanya, Erik memutar kembali uang itu di Bitcoin dan memperoleh keuntungan USD 100,000.
Uang sebanyak itu tidak ditabungnya buat menebus biaya kuliah yang tinggi di Amerika. Lebih cerdik lagi, Erik memutarnya kembali sebagai modal untuk mendirikan Botangle, sebuah situs pendidikan yang menghubungkan para pelajar dengan pengajar. Erik pun sudah bikin deal dengan ayahnya: jika dia berhasil memperoleh 1 juta dolar sebelum berusia 18 tahun, maka dia nggak perlu menempuh bangku kuliah. Semoga sukses, Erik!
Cewek remaja ini menciptakan sebuah mekanisme yang bisa mencegah cyberbullying bernama Rethink. Rethink adalah pop-up di situs web yang mampu mendeteksi bahasa kotor, hinaan, dan komentar menyakitkan di dalam kolom komentar online. Sebelum meloloskan komentar itu, Rethink akan meminta si pengirim komentar untuk berpikir ulang sebelum mem-posting komentarnya.
Sederhana, ya? Tapi hasilnya luar biasa. 93% remaja yang diminta untuk berpikir kembali oleh Rethink mengurungkan niatnya buat menulis komentar negatif. Trisha mendaftarkan proyek ini ke Google’s Global Science Fair, yang mengantarkannya masuk sebagai finalis.

Lily Born, 11 Tahun

Kakek Lily menderita Parkinson, sehingga ia mengalami kesulitan saat mengambil, memegang, dan meletakkan gelas. Lily pun mengakali ini dengan merancang cangkir yang nggak bisa pecah dan anti tumpah. Nama cangkirnya? Kangaroo Cup.
Anak umur 11 tahun mau cari modal buat bikin cangkir dari mana? Kampanye di Kickstarter! Lewat situs urun dana massal ini, Lily berhasil mengumpulkan 62,000 dolar Amerika sebagai modal. Padahal, target dia semula cuma 25 dolar saja, lho. Satu lagi bukti bahwa ide yang bagus pasti akan menarik orang berinvestasi.

Evan, 7 Tahun

Evan adalah wajah yang sering kita jumpai dalam kanal YouTube EvanTubeHD. Di umurnya yang baru 7 tahun, Evan menjadi salah satu bintang YouTube dengan pemasukan yang tinggi. Kanal Evan berisi ulasan dari game dan mainan-mainan anak yang baru keluar di pasaran. Biasa saja, sih. Tapi gaya bicaranya yang lucu membuat Evan punya banyak penggemar.
Dengan 476,000 pemirsa dan 443 juta views yang sudah dikumpulkannya, Evan berhasil meraup pemasukan bersih sebesar 1,32 juta dolar Amerika (lebih dari Rp. 15 miliar) dari iklan. Bayangkan berapa pemasukan Evan setelah ditambah upah dari sponsor. Belum lagi segudang mainan dan game yang ia dapatkan dari mengulas produk-produk tersebut! Wah, Evan. Masa depanmu cerah!
Gimana, pada bikin ngiler ‘kan cerita-ceritanya? Makanya, jadikan kisah mereka sebagai bahan bakar semangatmu. Berpikir lebih dalam, bekerja lebih cerdas! Semoga sukses!
Perusahaan Startup – Pertanyaan ini mungkin akan berputar-putar di kepala mereka yang baru saja diwisuda dan menyandang gelar sarjana. Di satu sisi, perusahaan-perusahaan besar pastilah menawarkan kemapanan. Sementara di sisi lain, perusahaan rintisan atau yang punya nama keren “startup” pun menjanjikan berbagai pengalaman yang tak bisa diabaikan.

Nah, jika saat ini kamu sedang bimbang untuk memutuskan, artikel dari Hipwee kali ini bisa jadi memantapkan langkahmu. Kenapa kamu tak harus ragu memulai karirmu di perusahaan startup? Inilah alasan-alasan yang akan meyakinkanmu.
Bagi para fresh graduates, memilih bekerja di perusahaan startup bisa jadi pilihan tepat. Minimnya jumlah pegawai hingga sistem kerja yang belum jelas justru menempamu jadi karyawan yang lebih bertanggung jawab
Ketika kamu bekerja di perusahaan perintis, hampir bisa dipastikan kamu akan bekerja dalam tim dengan jumlah kecil. Ada kemungkinan kalau hanya kamulah satu-satunya orang dengan kompetensi dalam bidang yang sedang kamu pegang, sehingga tanggung jawab yang kamu pikul semakin besar
Selain itu, bisa jadi juga kamu harus memikul beberapa tanggung jawab sekaligus dalam posisimu di perusahaan tersebut. Bahkan, soal sistem atau pola kerja pun bisa jadi belum jelas sehingga kamu dituntut untuk pintar-pintar mengatur sistem kerjamu sendiri. Meski terdengar sulit, pikirkan ini sebagai hal yang positif karena secara otomatis kamu akan terdidik menjadi pribadi yang lebih berdedikasi dan bertanggung jawab pada pekerjaan atau bidang yang kamu tekuni. Dan sifat-sifat ini pulalah yang biasanya dimiliki oleh para pegawai unggulan.

Meski tak menjanjikan gaji yang besar, perusahaan rintisan memberimu berbagai kesempatan yang semakin terbuka lebar

Memang pada kenyataannya, sebagian besar bayaran dari bisnis startup tidak akan sebesar gaji dari perusahaan besar. Namun alih-alih uang, kamu akan mendapatkan bayaran dalam wujud lain yang lebih berharga, yaitu kesempatan-kesempatan untuk menimba pengalaman dan menambah keahlianmu.
Perlahan tapi pasti, jika kamu gigih dan jeli dalam menyambut setiap kesempatan, kamu akan mendaki tinggi dalam dunia karir. Hari ini mungkin kamu masih bekerja dalam skala kecil, sekadar menangani klien-klien dari perusahaan kecil pula. Tapi, coba pikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi beberapa bulan ke depan. Bukan tak mungkin perusahaan tempatmu bekerja akan tumbuh dengan cepat dan melayani orang-orang ternama dengan proyek-proyek bonafit yang mereka punya.

Jobdesc yang berubah-ubah tak seharusnya dirutuki. Kondisi ini malah menjadikan skill dan kemampuanmu terus bertambah lagi

Karena perusahaan perintis biasanya memiliki jumlah staff yang terbatas, tak jarang kamu akan diberikan tugas-tugas yang sifatnya fleksibel. Kamu punya jobdesc yang bisa berubah-ubah setiap saat tergantung kebutuhan kantor. Kamu tidak akan terkungkung pada satu kewajiban saja, yang berisiko membuatmu jenuh; tapi juga kesempatan untuk menangani bidang-bidang lain.
Pengalaman seperti ini akan memperluas pandangan dan keahlianmu dalam menangani berbagai jenis tugas dengan posisi yang berbeda-beda. Otakmu pun akan terus terasah sehingga kamu bisa lebih mahir dalam segala hal. Bisa jadi kamu pun akan menemukan passion atau bahkan bakat tersembunyi dalam suatu posisi yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.

Lingkungan startup adalah tempat berkumpulnya orang-orang kreatif yang haus inovasi. Kamu punya kesempatan berinteraksi dan belajar langsung dari para inovator sejati

Orang-orang yang merintis bisnis mereka sendiri sejak awal memiliki mental dan pandangan profesional yang berbeda dengan orang-orang yang tidak pernah menciptakan apapun dengan kedua tangan mereka sendiri. Karena sifat mereka yang kreatif dan penuh dengan inovasi ini, para entrepreneur adalah guru-guru terbaik dalam karirmu.
Para entrepreneur adalah pribadi yang memecahkan masalah dengan cara berbeda, gigih mewujudkan apa yang jadi mimpi dan cita-cita, serta selalu berusaha untuk memanfaatkan waktu demi bisa bekerja seoptimal mungkin. Bersama mereka, kamu akan terlatih untuk menantang dirimu sendiri. Melihat sesuatu secara out of the box dan terus terlatih untuk menangani masalah yang menghadang dalam pekerjaan.

Kontribusimu pada perusahaan akan sangat diperhitungkan. Setiap saran dan pendapat yang kamu berikan punya andil besar menentukan masa depan perusahaan

Di perusahaan besar, apalagi jika kamu mulai dari posisi entry level, kemungkinan besar pencapaian dan prestasimu tidak akan seberapa diakui. Biasanya, ada saja pihak-pihak lain yang mengambil keuntungan dan reputasi dari pekerjaan yang kamu rampungkan.
Hal ini hampir tidak mungkin terjadi dalam perusahaan startup. Seluruh bagian dari perusahaan akan menyadari keberadaan dan peranmu karena setiap individu memberikan pengaruh yang besar pada kelangsungan perusahaan. Setiap pencapaian dan prestasi akan membuahkan pujian bagimu. Di titik ini, kamu pun akan terpacu untuk bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan karena apa yang kamu lakukan akan ikut menentukan nasib perusahaan di masa depan.

Jika perusahaan besar identik dengan suasana kerja yang kaku, startup justru memberi kesempatan bagi pegawai untuk melakukan apa yang mereka mau

Sebagian besar perusahaan perintis memulai usaha mereka dengan jumlah staf yang cukup kecil. Jumlah kecil ini memungkinkan kamu agar dapat akrab dengan anggota timmu. Lingkungan ini akan mengembangkan kekompakan, budaya kerja sama dan jiwa korsa yang kuat. Di perusahaan startup, biasanya akan tercipta suasana kerja yang lebih santai dan bersahabat. Selama target pekerjaanmu terpenuhi kamu bebas bersantai atau bercengkrama dengan anggota tim yang lain.
Peraturan di perusahaan ini tentang penampilan biasanya juga lebih luwes. Kamu boleh mengenakan pakaian apapun ke kantor, asalkan bebas sopan. Ini artinya, semua orang dapat kesempatan untuk mengekspresikan diri sendiri karena tidak terkungkung dalam budaya kerja yang monoton dengan baju resmi atau seragam. Mengenakan pakaian favoritmu juga dapat meningkatkan mood saat bekerja, bukan?

Bisnis startup biasanya menggunakan dana atau modal yang terbatas. Bekerja di sana menjadikanmu pribadi yang cermat dan penghemat garis keras

Perusahaan perintis tentu saja dimulai dengan ‘dana perintis’ pula, artinya tidak melimpah dan tidak berlebih. Lantaran sedang berkembang, perusahaan pun mungkin masih mencari-cari pola bisnis yang paling cocok untuk dijalani.
Dengan kondisi seperti ini sudah pasti kamu akan ditempa untuk bekerja efektif dengan bujet yang terbatas. Berusaha menciptakan hasil sebaik-baiknya dengan dana yang sekecil-kecilnya. Kebiasaan ini bisa terbawa dalam kehidupan sehari-harimu dan menjadikan kamu pribadi yang lebih pandai dalam mengatur keuangan.

Memulai karir di perusahaan startup terbukti membawa banyak kebaikan. Budaya mandiri dan kerja keras kelak akan mengantarmu meraih kesuksesan di masa depan

Hal terpenting yang bisa kamu dapatkan dari bekerja di perusahaan perintis adalah kesadaran akan betapa berharganya kerja keras, pola pikir kreatif, dan keuletan itu dalam etos kerja demi karir yang gemilang. Bekerja dengan perusahaan seperti ini juga akan mendidikmu agar lebih mandiri, untuk sanggup menuntaskan kewajibanmu meskipun tenaga dan fasilitas yang membantumu tidak seberapa. Ketika kamu berhasil menyelesaikan misimu, rasa puas yang dihasilkan akan berkali-kali lipat daripada ketika kamu mendapatkan terlalu banyak kemudahan saat mengerjakannya.
Itu tadi sederet manfaat yang bisa kamu petik dengan bekerja di perusahaan startup. Apakah saat ini kamu semakin mantap untuk memulai karir di perusahaan startup, ataukah justru lebih mantap memilih perusahaan besar? Apapun pilihanmu, teruslah berusaha demi karir dan masa depanmu, ya!
Gaji para Founder Startup – Memulai bisnis merupakan suatu tindakan yang jauh berbeda dari menghasilkan pendapatan dengan menjadi karyawan. Perubahan tersebut juga menciptakan tantangan di mana kamu harus merelakan kehilangan gaji besar dan sumber pendapatan yang stabil.

Banyak orang bertanya, “Apakah ini berarti saya harus menunggu hingga akhir tahun untuk menerima gaji?” “Bagaimana saya membayar kebutuhan sehari-hari?” Kekhawatiran ini merupakan hal yang biasa dirasakan oleh para founder startup ketika mereka mulai membangun perusahaan.
Di artikel sebelumnya, saya menulis tentang mengapa skema gaji bukan cara terbaik bagi para founder untuk mendapat penghasilan. Dalam artikel ini, saya akan mencoba mengisi celah pengetahuan tentang bagaimana skema gaji para founder dapat dibuat dengan lebih terstruktur.

Gaji pokok founder

Izinkan saya memulai dengan memberikan gambaran tentang bagaimana founder dapat menggaji dirinya sendiri. Pada dasarnya, ada dua jenis skema pembayaran:
  • untuk pekerjaan, dan
  • untuk investasi.
Pembayaran untuk pekerjaan biasanya berwujud gaji. Karena para founderbekerja untuk startup yang ia bangun, tentu saja menerima kompensasi berupa gaji merupakan hal yang lumrah. Namun menentukan besar gaji tidak mudah, beberapa founder bahkan menghancurkan persahabatan di antara para co-founder karena perkara ini!
Pembayaran untuk investasi biasanya dilakukan dalam bentuk dividen. Bentuk paling sederhana pembagian dividen yaitu dengan membagi rata berdasarkan nilai saham yang dimiliki investor. Cara ini relatif lebih mudah karena masing-masing orang mengetahui nilai saham yang dimiliki setiap pihak.
Namun, jika kamu tidak mengetahui nilai saham yang kamu punya atau jumlah saham yang beredar untuk startup milikmu, kamu sebaiknya mulai merasa khawatir dan pikirkan lagi tentang bisnis yang kamu jalankan.

Pembayaran untuk pekerjaan

Mendapat gaji pada akhir bulan merupakan hal yang lazim terjadi ketika kamu bekerja di suatu perusahaan. Hal ini juga diajarkan di sekolah dan  ini juga yang kamu alami ketika bekerja untuk orang lain.
Saya sudah menyinggung perihal ini di artikel sebelumnya, sebagai founder, kamu sebaiknya tidak mematok gaji yang tinggi untuk dirimu sendiri. Metode ini tidaklah efisien, berikut alasannya.

Membuat struktur skema pembayaran atas kerja kamu

Saya tidak akan secara detail membahas kompleksitas struktur gaji, karena hal ini cukup rumit. Selain itu, berdasarkan pengalaman saya, tidak ada satu solusi sempurna yang bisa diterapkan di semua kondisi.
Meski demikian, ada beberapa hal mendasar yang patut kamu ketahui. Susun skema gaji kamu menjadi dua bagian:
  • gaji pokok, dan
  • gaji berdasarkan performa kerja.
Apa perbedaan di antara keduanya? Gaji pokok merepresentasikan gaji minimum untuk kamu dan para co-founder lain (dengan asumsi kalian juga bekerja di startup tersebut). Sementara skema gaji berdasarkan performa berhubungan dengan kinerja kamu dan para co-founder selama bulan, seperempat tahun, atau setahun masa kerja.

Mengapa saya merekomendasikan skema ini?

Pertama, gaji bisa membuat kamu dan para co-founder kehilangan motivasi untuk bekerja lebih keras. Jika semua orang mendapatkan jumlah gaji yang sama setiap bulannya, kamu akan mulai meragukan beban kerja kolega lain. Dalam hitungan tahun, kamu akan mulai meragukan hubungan kalian, dan pada akhirnya perusahaan mulai tumbang karena ketidakpercayaan.
Kedua, dengan berfokus pada pembayaran berdasarkan performa, tiap individu akan bekerja menuju satu arah bisnis yang sama. Tidak ada tebak-tebakan berkat sistem scorecard (rekam jejak statistik untuk mengukur pencapaian kinerja seseorang). Tidak ada keraguan, karena semua jelas terukur dan telah disepakati.
Dan tentu saja, skema pembayaran berdasarkan performa seharusnya sejalan dengan pendapatan dan dana yang startup kamu miliki. Jika kamu membayar dengan angka yang besar untuk kinerja tertentu, bisa jadi performa tersebut hanya bertahan sementara waktu.

Pembayaran untuk investasi

Ketika berbicara tentang pembayaran karena investasi, biasanya, kita akan langsung menghubungkan hal ini dengan dividen. Ya, saat itu investasi yang kamu terima masuk jadi modal perusahaan.
Sebenarnya ada banyak cara melakukan investasi di suatu perusahaan. Jenis investasi yang bisa kamu gunakan untuk membangun startup milikmu antara lain yang memungkinkan investor memperoleh hak suara, mendapatkan jaminan pengembalian, pendapatan bunga, dan lain-lain.
Instrumen ekuitas adalah aspek penting yang perlu dipahami para founder. Hal ini dapat membantu kamu menciptakan skema manfaat bagi karyawan dan distribusi keuntungan.
Dan tentu saja, dalam kasus-kasus tertentu, investor pihak ketiga sebenarnya tidak perlu mendapatkan hak suara, bukan? Dengan mengetahui perbedaan saham dan apa saja yang melekat padanya akan membantu kamu membuat kesepakatan yang lebih baik.

Mengawinkan keuntungan dengan kepemilikan saham

Ciptakan rasa percaya sebagai fondasi untuk memotivasi kamu, para co-founder, dan bahkan karyawan. Kepercayaan tidak bisa dinilai dengan uang, sehingga harus diubah menjadi suatu yang nyata atau sepadan agar berjalan dalam jangka waktu lama.
Bonus kepemilikan saham sudah ada sejak lama. Banyak startup mengizinkan karyawannya untuk menerima bagian saham perusahaan dengan ketentuan tertentu (secara teknis, hal ini disebut vesting, yaitu saham perusahaan yang dimiliki oleh karyawan baik ketika masih bekerja di perusahaan tersebut atau sudah keluar).
Karena dapat memberikan rasa kepemilikan, sehingga mendorong mereka menginvestasikan lebih banyak waktu dan usaha ke bisnis.
(Saya tidak akan banyak membahas tentang hal ini untuk menghindari pengulangan, tetapi sebagai peringatan: hukum di negara-negara Barat belum tentu sama dengan negara kamu. Jadi berhati-hatilah. Saya mengerti, tidak banyak yang menulis tentang hal ini dalam konteks Asia. Kebanyakan masih berasal dari perspektif Silicon Valley. Jadi sebaiknya carilah saran terlebih dahulu sebelum melanjutkan).
Mengapa bonus saham? Karena dapat memberikan rasa kepemilikan, sehingga mendorong mereka menginvestasikan lebih banyak waktu dan usaha ke bisnis. Dan tentu saja, untuk para founder, agar lebih keras lagi dalam bekerja.
Bukankah akan terasa lebih bermakna jika kamu mendapatkan lebih banyak “kepemilikan” setelah bekerja keras? Namun tetaplah berhati-hati terhadap pembagian saham tersebut.

Tunggu, di artikel sebelumnya kamu baru saja mengatakan saya sebaiknya tidak digaji?

Ya, benar sekali. Pemberian gaji berdasarkan performa kerja bukan berarti selalu dalam bentuk tunai.
Ada banyak cara menyusun skema gaji. Pikirkan dan pelajari lagi dengan lebih mendalam. Prosesnya mungkin akan melibatkan banyak bidang ilmu seperti akuntansi, keuangan, hukum, ekonomi, dan manajemen sumber daya manusia yang sulit.
Tahukah anda apa itu bisnis startup? Mungkin hanya sebagian kecil saja orang tahu dengan bisnis strartup ini. Kata startup sendiri adalah serapan dari bahasa inggris yang menunjukan sebuah bisnis yang baru dirintis.

Menurut sumber informasi dari Wikipedia.org, startup adalah sebuah perusahaan rintisan, umumnya disebut startup (atau ejaan lain yaitu start-up), merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi.
Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Istilah “startup” menjadi populer secara internasional pada masa gelembung dot-com, di mana dalam periode tersebut banyak perusahaan dot-com didirikan secara bersamaan.
Dari definisi diatas dapat kita simpul bahwa bisnis startup adalah suatu bisnis yang baru berkembang. Namun, bisnis startup ini lebih identik bisnis yang berbau teknologi, web, internet dan yang berhubungan dengan ranah tersebut. Bisnis startup berkembang akhir tahun 90an hingga tahun 2000, nyatanya istilah Startup banyak.
Dari berbagai sumber kami mendapat beberapa karakteristik perusahaan startup. Silahkan baca beberapa karakteristik berikut ini:
  1. Usia perusahaan kurang dari 3 tahun
  2. Jumlah pegawai kurang dari 20 orang
  3. Pendapatan kurang dari $ 100.000/tahun
  4. Masih dalam tahap berkembang
  5. Umumnya beroperasi dalam bidang teknologi
  6. Produk yang dibuat berupa aplikasi dalam bentuk digital
  7. Biasanya beroperasi melalui website
Kebanyakan beberapa karakteristik bisnis startup ini dan pelakunya lebih condong bergerak dibidang teknologi, website dan hal yang berbaur internet.
Bagaimana Perkembangan Bisnis Startup Di Indonesia
Untuk di Indonesia sendiri perkembangannya cukup bagus dan mengembirakan. Setiap tahun banyak founder-founder (pemilik) Startup baru bermunculan di indonesia. Menurut dailysocial.net, sekarang ini terdapat setidaknya lebih dari 1500 Startup lokal yang ada di Indonesia. Potensi pengguna internet Indonesia yang semakin naik dari tahun ke tahun tentunya merupakan suatu lahan basah untuk mendirikan sebuah Startup.
Menurut Rama Mamuaya, CEO dailysocial.net, Startup di Indonesia digolongkan dalam tiga kelompok yaitu Startup pencipta game, Startup aplikasi edukasi serta Startup perdagangan seperti e-commerce dan informasi. Menurutnya Startup game dan aplikasi edukasi punya pasar yang potensial dan terbuka di Indonesia. Hal ini dikarenakan proses pembuatan game dan aplikasi edukasi relatif mudah.
Dengan berkembangnya media sosial dan smartphone, pasar untuk mobile game dan social game semakin besar. Sementara itu untuk aplikasi atau website yang bergerak di bidang e-commerce dan informasi, Rama menilai tantangannya di Indonesia masih cukup besar dikarenakan masih minimnya penggunaan kartu kredit.

Pendanaan Startup – Bagaimana cara kamu menjawab pertanyaan dari investor?

  • Kamu akan menjual perusahaan dengan harga berapa?
  • Mengapa kamu mengumpulkan pendanaan senilai X dolar?
  • Berapa banyak dana yang ingin kamu kumpulkan di putaran selanjutnya? kapan hal itu akan terjadi?
Semuanya dimulai dengan mengetahui apa yang kamu inginkan. Jika kamu tahu apa yang kamu mau, kamu dapat membuat rencana bagaimana cara mencapai keinginan tersebut.
Pikirkan tentang hasil yang kamu inginkan: melakukan IPO. Kemudian, atur langkah-langkah yang bisa kamu ambil untuk mencapainya, yang akan membantu kamu mendapatkan gambaran lebih baik tentang peta menuju tujuanmu.
(Kebanyakan orang sekarang membangun startup dengan mengandalkan investasi dari VC. Jadi, artikel ini akan fokus pada kasus seperti ini.)

Tentukan tahap-tahap penggalangan dana

Kamu perlu mengubah sudut pandang jika membangun startup dengan pendanaan investor. Karena ini bukan hanya tentang melakukan IPO, tapi juga cara mencapai tahap pendanaan selanjutnya.
Tentu ada alasan mengapa kamu tidak berhasil mendapatkan pendanaan US$300 juta (sekitar Rp4,2 triliun) ketika kamu mulai membangun perusahaanmu—mungkin karena kamu belum cukup membuktikannya.
Jadi, apa yang harus kamu buktikan pada setiap tahap pendanaan:
  1. Angel: Buktikan bahwa kamu dapat membangun produk dan mendapatkan pengguna.
  2. Pendanaan awal: Melakukan validasi tentang asumsi utama: Apakah memang ada pasar yang cukup besar? Apakah pemasaran yang kamu lakukan telah berjalan baik? Apakah kamu dapat merekrut karyawan? Dan lainnya.
  3. Seri A: Kamu harus bisa menunjukkan dapat memperluas jangkauan bisnis, menerapkan proses dan sistem, dan merekrut karyawan unggulan.
  4. Seri B: Putaran ini adalah tentang menunjukkan bahwa kamu dapat mengukur apa yang sudah kamu lakukan. Tentu masih ada yang harus dibenahi, tapi kamu sudah mendapat gambaran jelas tentang unit ekonomi startup (CAC, LTV, dan waktu balik modal).
  5. Seri C+: Kamu menunjukkan bahwa kamu bisa masuk ke pasar utama dan membuat bisnismu berkibar di sana.
Alasan mengapa tahapan-tahapan tersebut penting adalah karena para investor tidak berdiam di satu tahapan saja. Investor yang fokus pada tahap pertumbuhan biasanya tidak akan terjun ke seri A, kebanyakan investor yang masuk ke tahap pendanaan seri A tidak memberikan pendanaan tahap awal, dan lainnya.
Dalam jangka pendek, para VC hanya peduli tentang satu hal: agar pendanaan awal yang mereka berikan terus mendapat investasi lanjutan.Jadi, pembelajaran utama di sini adalah untuk berpikir tentang tahap pendanaan lanjutan.

Mulai dengan mengetahui tujuan akhir kamu

Tahap pertama adalah mengetahui kamu ingin menjual perusahaan dengan harga berapa? US$1 miliar (sekitar Rp14,1 triliun)? Baik.
Masukkan angka tersebut dalam konteks dengan latihan sederhana berikut. Periksa angka kelipatannya di industri kamu. Jika perusahaan serupa telah terjual atau masuk ke bursa saham dengan harga sepuluh kali lipat dari jumlah pendapatannya, maka kamu jadi mengetahui angka kelipatan bagimu.
Bagikan angka US$1 miliar (sekitar Rp14,1 triliun) dengan 10, dan kamu mendapatkan angka sebesar US$100 juta (sekitar Rp1,4 triliun) (pendapatan ini sekarang menjadi tujuan kamu, bukan US$1 miliar).
Jadi pertanyaan besarnya kini adalah:
  • Bagaimana cara kamu mendapatkan US$100 juta (sekitar Rp1,4 triliun) bagi perusahaan?
  • Berapa lama kamu akan mendapatkannya?
  • Berapa banyak putaran dan berapa jumlah uang yang kamu butuhkan untuk setiap putaran?

Lakukan perhitungan pada tiap putaran

Apa yang harus kamu lakukan adalah memisahkan kebutuhan pada tiap putaran.
Jadi, pertanyaan selanjutnya adalah berapa banyak putaran yang perlu kamu lakukan untuk mendapatkan US$100 juta (sekitar Rp1,4 triliun)? Pada contoh ini, saya menganjurkan kamu melakukan delapan putaran.
Selanjutnya, kamu harus melakukan sejumlah riset dan melihat berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk membangun perusahaan serupa.
Kamu dapat mengecek informasi tersebut di Crunchbase. Apakah pembangunan tersebut membutuhkan US$150 juta (sekitar Rp2,1 triliun)? Bagaimana kamu mengalokasikan dana tersebut di seluruh putaran? (Petunjuk: yang terakhir akan menjadi yang terbesar).
Mulailah dari target akhir, gambarkan panah dari seri E menuju IPO. Dari putaran tersebut, seberapa besar perkembangan yang perusahaan kamu butuhkan untuk melakukan IPO? Mungkin kamu merasa perlu menghasilkan pertumbuhan pendapatan sekitar 60 persen. Tidak masalah. Ini berarti pada seri E, kamu perlu mencetak pendapatan senilai US$62 juta (sekitar Rp875 miliar).
Kembali ke topik semula, jika kamu punya waktu operasional perusahaan selama 18 bulan, seberapa besar kamu ingin tumbuh untuk mendapatkan US$62 juta (sekitar Rp875 miliar) pada seri E? Jika kamu melipatgandakan pendapatan, kamu harus mendapatkan US$31 juta pada seri D. Terus lakukan ini, hingga tiba pada tahapan kamu sekarang.
Menurut tingkat pertunbuhan pada setiap putaran, kamu dapat melihat seberapa banyak yang kamu butuhkan pada tahapan putaran pendanaan angel (atau tahap pendanaan awal apapun).
Jika proyeksi angka yang kamu buat terlalu rendah atau tinggi, kamu harus mengulanginya agar angka tersebut terdengar masuk akal.

Mengapa kamu mengumpulkan pendanaan sejumlah x dolar?

Yang sudah kita lakukan adalah memetakan setiap tahap pendanaan, sekaligus target pendapatan dan pertumbuhan yang kamu perlu capai tiap tahapan dan lanjutannya.
Jika seorang investor bertanya,”Mengapa kamu membutuhkan US$500.000 (setara Rp7 miliar)?” kamu kini memiliki amunisi untuk menjawabnya.
Para investor, tentu saja, peduli tentang bagaimana kamu akan menghabiskan uang tersebut. Jadi kita akan membahas perihal itu nanti.

Saya tahu kamu terobsesi dengan pendanaan, namun proses ini juga menuju suatu akhir. Tak lama setelah kamu menyelesaikan suatu putaran pendanaan, kamu mesti segera kembali bekerja dan menerapkan investasi yang sudah diterima untuk pertumbuhan perusahaan.
Jadi, selamat! Kamu telah menerima pendanaan seri A. Tujuan kamu selanjutnya adalah seri B. Apa yang harus kamu capai untuk mendapatkannya?
Kisah Sukses Startup – Masa depan adalah milik orang-orang yang menceritakan kisah terbaik. Di balik setiap kisah yang menarik terdapat pola universal, yaitu “perjalanan sang pahlawan”.

Istilah itu datang dari Joseph Campbell, seorang ahli mitologi. Campbell berpendapat bahwa setiap sejarah manusia adalah gabungan dari berbagai kisah yang melintasi waktu, budaya, letak geografis, usia, dan jenis kelamin. Kamu bisa temukan buktinya dalam berbagai hal, mulai dari Star Wars, Game of Thrones, Jane Eyre, The Wizard of Oz, dan bahkan dalam kisah jatuh-bangun banyak startup.
Saat kamu memahami pola dasar dari kisah-kisah ini, kamu akan lebih siap untuk mengarahkan perjalananmu menuju kesuksesan.
Perjalanan saya sendiri berawal dari ide sederhana. Setelah 12 tahun berlalu, saat ini JotForm melayani 4,1 juta pengguna. Tetapi perjalanan ini sangat berliku, penuh dengan tikungan, belokan, dan rintangan yang tak terduga.
Walau mudah untuk membayangkan bahwa kesuksesan dimulai dengan sedikit kejeniusan, itu hampir tidak pernah terjadi. Jalan itu tentu saja bukan jalan menuju transformasi bermakna.
Di situlah perjalanan sang pahlawan dimulai. Ayo kita lihat lebih dekat.
(Catatan: Saya memangkas sedikit tahap-tahapnya, tetapi ingatlah bahwa semua tahap itu penting.)

Tahap 1: Dunia biasa

Kisah ini dimulai dengan sang pahlawan berada di lingkungan normal. Situasinya aman dan tanpa kejutan. Luke Skywalker adalah anak petani yang bosan. Rutinitas Dorothy sehari-hari di Kansas sangat bisa ditebak.
Di dunia kita, mungkin itu semacam ritme menyenangkan karena mendapatkan gaji rutin atau bekerja dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Bisa juga seperti memusatkan perhatian pada fitur-fitur kecil dan pembaruan minor saat bisnismu berpotensi mengubah pasar.

Tahap 2: Tantangan petualangan

Sang pahlawan menghadapi masalah, petualangan, atau tantangan. Dalam Star Wars, Obi-Wan Kenobi meminta Luke membantu menyelamatkan Princess Leia dan memulihkan tatanan alam semesta.
Pada 2007, Brian Chesky dan teman sekamarnya, Joe Gebbia, kesulitan membayar sewa di San Francisco. Setelah mengetahui bahwa suatu konferensi desain akbar akan berlangsung dan hotel-hotel bakal penuh, mereka memutuskan untuk menyewakan tiga kasur angin di loteng mereka dan mengajak tamu-tamunya berkeliling kota. Inilah awal kelahiran Airbnb.
Dalam kasus kami, tantangan petualangan ini datang dari pelanggan. “Tamparan” ini mengungkap fakta yang kami abaikan beberapa tahun terakhir, yaitu kami terlalu nyaman membuat formulir online.
Kami selalu berpikir bahwa tugas kami adalah membuatnya unggul di pasar yang dipadati lusinan pembuat formulir online. Kami tidak tahu bahwa mendengarkan tantangan ini akan mengubah DNA bisnis kami dan mendefinisikan pasar yang sepenuhnya baru.

Tahap 3: Menolak tantangan

Kisahnya akan terasa palsu jika sang pahlawan langsung bertindak. Sebaliknya, pahlawan justru berjuang melawan ketakutan akan hal yang masih samar dan menolak tantangan petualangan itu. Jika kamu pun merasa begitu, kamu jelas tidak sendirian.
Identifikasi masalah utama ketakutanmu, karena itu langkah pertama untuk mengatasinya. Setelah itu, terus perhatikan tujuanmu, akui hal-hal yang kamu hindari, dan tetaplah maju.
Dengan kata lain, jawablah tantangan itu.

Tahap 4: Bertemu mentor

Saat perjalanan dimulai, sang pahlawan pun bertemu mentornya. Biasanya mentor adalah sosok lebih tua dan bijaksana yang menyiapkan sang pahlawan menghadapi hal-hal yang belum pasti.
Mentor bisa saja seorang pertapa, seperti Yoda, atau penyihir baik hati yang menawarkan nasihat bijak dan sepasang sandal bertatahkan batu delima. Mentor juga bisa berupa orang tua, guru, atau teman.
Beberapa bulan belakangan, tim user experience research (UXR) menjadi mentor kami. Dulu kami memandang formulir sebagai cara untuk mengumpulkan data, tetapi panduan dari tim UXR membantu kami menemukan bahwa banyak pelanggan sebenarnya memakai produk kami untuk bertindak berdasarkan data, menganalisis, dan memahami arti data bagi bisnis mereka.
Kita mungkin sudah tahu hal ini sebelumnya, tetapi memilih tidak menjawab tantangan itu. Di sanalah fungsi mentor. Mereka membuka mata kita dan memaksamu untuk mendengarkan tantangan yang ada.

Tahap 5: Ujian, teman, lawan

Setelah sang pahlawan melewati ambang tantangan pertama, momentum pun mulai terbangun. Dorothy berangkat dari Yellow Brick Road. Luke dan teman-temannya mengelilingi galaksi untuk mengalahkan Darth Vader.
Dalam perjalanan, sang pahlawan mendapatkan teman dan lawan. Mereka juga harus menghadapi banyak ujian. Perjalanan sang pahlawan menunjukkan kepada kita bahwa perjuangan tidak bisa dihindari dan menjadi bagian dari proses.
Tidak peduli apakah kamu merintis perusahaan, merilis proyek baru, atau menjalankan organisasi nirlaba. Kamu akan menghadapi ujian, kegagalan, dan harus berusaha bangkit kembali.

Tahap 6: Cobaan

Sekarang kisahnya semakin nyata. Sang pahlawan menghadapi ketakutan terbesarnya, sering kali dengan berjuang hingga titik darah penghabisan, baik secara fisik, kecerdasan, emosional, atau psikologis.
Pada 2011, Airbnb adalah startup beranggotakan 40 orang yang menghadapi cobaan besar. Perusahaan Eropa bernama Wimdu meruntuhkan situs web dan bisnis model mereka. Sementara Wimdu masih memiliki US$90 juta di bank, Airbnb hanya berhasil mengumpulkan US$7 juta.
Tetapi Airbnb memilih untuk melawan. Mereka menjadi besar dan berani, mengumpulkan tambahan dana US$112 juta, dan membuka 9 kantor global kurang dari satu tahun. Pada Juni 2012, Airbnb mengalahkan Wimdu.
Seperti yang dikatakan Chesky pada investor dan penulis Blitzscaling, Reid Hoffman, “Samwer bersaudara (orang Jerman yang mendirikan Wimdu) memberi kami hadiah. Mereka memaksa kami untuk berkembang lebih cepat dari yang pernah kami lakukan sebelumnya.”
Perjalanan sang pahlawan mengajari kita bahwa apa pun yang menghadang, kamu akan lebih kuat setelah berhasil mengatasi cobaan itu.

Tahap 7: Hadiah

Sang pahlawan menang. Dia menaklukkan iblis atau melarikan diri dari Wicked Witch. Sekarang dia bisa merebut harta misterius itu, bisa berupa apa pun. Pedang ajaib, pengetahuan yang diperoleh susah payah, rasa hormat dari masyarakat, atau kepuasan pribadi.
Apa hadiahmu? Tetapkan sendiri hal itu. Uang, pujian, pengakuan memang hebat. Tetapi, apa hal-hal itu cukup untuk membawamu melewati cobaan? Perjelaslah hal-hal yang kamu kejar dan pilihlah dengan bijak.

Tahap 8: Jalan pulang

Setelah perayaan kemenangan, saatnya tahap perjalanan pulang. Sekarang sang pahlawan harus menghadapi dampak dari tindakannya. Dia masih harus menghadapi tantangan-tantangan lainnya.
Akhirnya, sang pahlawan tiba di rumah dengan membawa harta: kebebasan, kedamaian, cinta, pengetahuan. Tetapi apa pun hartanya, perjalanan itu telah mengubah dirinya selamanya.

Jawab tantangannya

Keluar dari zona nyaman memang tidak mudah, dan tahap-tahap perjalanan sang pahlawan bisa membantumu.
Ketika kamu sadar bahwa kamu akan menghadapi tantangan dan akan ada tantangan-tantangan di sepanjang jalan, kamu akan lebih siap menjalani petualangan itu. Kamu bisa menghadapi ketakutanmu, tahu bahwa itu akan menghasilkan perubahan.
Saya paham karena saya juga suka main aman. Saya menolak peluang dan menghindari hal-hal yang tidak pasti. Tetapi sekarang tidak lagi.
Jadi, jika kamu siap bergabung dengan saya, ini dua saran yang mungkin bisa membantumu mengambil tindakan.
  1. Hadapilah langsung: Apa yang kamu hindari? Tantangan-tantangan dan peluang apa yang kamu tunda? Terkadang, jawabannya tersembunyi, dan mengungkap tahap-tahap itu adalah bagian dari pertarungan. Pada kasus lain, petualangannya tepat di depanmu, tetapi kamu tidak mau melihatnya.
  2. Dapatkan bantuan: Bertanyalah pada mentor, pakar, karyawan magang, teman, dan guru. Kamu akan butuh mereka semua. Kumpulkan semua sekutumu bukan karena mereka bisa membantumu di saat-saat sulit, tetapi juga karena mereka membantu membuat perjalananmu berharga.
Saat kamu harus memilih antara tetap di “dunia biasa” atau menghadapi hal yang tidak pasti, ingatlah: Transformasi itu tidaklah mudah. Ini adalah petualangan, dan ini perjalanan paling berharga yang bisa kamu lakukan.